Pengamat Asing Soroti Rencana Pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden China Xi Jinping Hari Ini

Rencana Presiden Jokowi bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing, Selasa (26/7/2022) hari ini, mendapatkan sorotan dari analis politik luar negeri. Di Beijing, Jokowi juga dijadwalkan akan bertemu dengan Perdana Menteri (PM) China Li Keqiang. Kunjungan Jokowi terjadi di tengah kontrol ketat China terhadap pandemi Covid 19.

Jokowi disebut sebagai pemimpin dunia pertama yang bertemu dan berunding langsung dengan Presiden Xi Jinping sejak serangan Rusia ke Ukraina 24 Februari 2022 lalu. Selama pandemi ini, Xi Jinping hanya berpartisipasi dalam pertemuan internasional melalui video. "Pembatasan selama tahun tahun pandemi telah menyusutkan kegiatan diplomatik China," kata Zhu Feng, Dekan Sekolah Studi Internasional Universitas Nanjing.

"China harus menghadapi kenyataan. Meski pandemi masih belum berakhir, China harus keluar dan mengajak masuk (pemimpin negara dunia)," sambung Zhu Feng. China mengatakan kepada Thailand bahwa Xi akan menghadiri pertemuan forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Bangkok, tak lama setelah KTT G20. "Jika dia tidak disibukkan dengan tanggung jawab lain," kata Tanee Sangrat, juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand.

Sebagai pemimpin G20, Jokowi akan mengajak Xi Jinping hadir dalam pertemuan KTT G20 di Bali November mendatang. Xi Jinping kemungkinan akan hadir di KTT G20 sebagai bagian dari kampanye politiknya di dalam negeri untuk masa jabatan lima tahun ketiga dirinya sebagai kepala Partai Komunis yang berkuasa. "Saya pikir Xi akan pergi ke G20 setelah mengamankan masa jabatan ketiganya dan dalam posisi politik yang kuat," kata Bonnie Glaser, Direktur Program Asia di German Marshall Fund Amerika Serikat.

Jokowi adalah satu satunya pemimpin negara asing yang mengunjungi China selama pandemi dan yang pertama sejak upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Beijing pada Februari lalu, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin. Xi Jinping terakhir kali bepergian ke luar negeri yakni ke Myanmar pada 18 Januari 2020. Lima hari kemudian, Kota Wuhan di China dilock down karena virus corona.

Xi melakukan perjalanan pertamanya ke luar daratan China sekitar tiga minggu lalu, mengunjungi kota semi otonom Hong Kong untuk menandai peringatan 25 tahun kembalinya bekas jajahan Inggris itu ke China. "Ini adalah kesempatan langka untuk melakukan pertukaran tatap muka di panggung multilateral, yang sangat dibutuhkan China," kata Su Hao, seorang profesor hubungan internasional di China Foreign Affairs University. Pertemuan semacam itu memudahkan untuk mencapai konsensus tentang masalah global yang kompleks seperti tantangan ekonomi saat ini, kata Su.

Dia menambahkan, G20 adalah kesempatan bagi Xi untuk memajukan proposal yang dia gadang gadang tentang pembangunan dan keamanan global. Presiden Jokowi akan menjadi pemimpin asing kedua setelah Biden yang mengunjungi Korea Selatan sejak pelantikan Yoon pada Mei. Mereka diharapkan membahas peningkatan kerja sama ekonomi, keamanan, infrastruktur, dan industri pertahanan.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi yang mendampingi Jokowi dalam lawatan luar negeri kali ini mengatakan, sejumlah isu yang akan dibahas antara lain perdagangan, investasi, kesehatan, infrastruktur dan perikanan. Dia menyebut China, Jepang, dan Korea Selatan sebagai mitra dalam masalah ekonomi dan regional. Menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia, Presiden Jokowi dijadwalkan akan mengadakan pembicaraan dengan PM Jepang Fumio Kishida di Tokyo pada Rabu (27/7/2022).

Kemudian bertemu Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol di Seoul pada Kamis (28/7/2022). China, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia semuanya adalah anggota G20, kelompok yang terdiri dari 19 negara besar dan Uni Eropa. Adapun Veronika Saraswati, seorang peneliti politik internasional di Center for Strategic and International Studies, sebuah wadah pemikir (think tank) Indonesia, yakin perjalanan Jokowi ke Beijing sebagian untuk secara pribadi mengundang Xi datang ke KTT G20.

“Ekspektasi kehadiran Presiden Xi Jinping di KTT G20 sangat tinggi,” katanya. “Di tengah situasi ekonomi dunia yang semakin buruk akibat pandemi dan konflik Rusia Ukraina, serta ketegangan dengan China yang terus melonjak di kawasan Indo Pasifik, kehadiran Xi tentu sangat dinanti dan akan memberikan kepentingan bagi keberhasilan pertemuan."

Tinggalkan Balasan